MENILAI ORANG LAIN

Kita semua pernah membuat penilaian yang salah tentang orang lain, terlalucepat menilai orang lain, atau bahkan menghakimi mereka. Dua pelajaran berhargayang perlu kita ingat setiap kali ‘terpancing’ untuk langsungmenilai orang tanpa mengenal dia lebih dahulu, yaitu ‘Apa yang kamutabur, itu yang kamu tuai’ dan ‘Apa yang kamu inginkan orang lain
perbuat untukmu, perbuatlah demikian untuk mereka.’
Contohnya simpel aja. Coba perhatikan dalam kehidupan sehari-hari kita. Berapa banyak kebencian yang kita taburkan, berakhir dengan menuai kebencian. Berapa banyak kebohongan yang kita taburkan, berakhir dengan menuai kebohongan. Berapa banyak penghakiman yang kita lontarkan berakhir dengan menuai penghakiman.
Dari mana menuai itu akan datang, itu bisa mengambil banyak cerita. Bisa dari orang yang kita benci atau bohongi, bisa pula dari orang lain. Menuainya pun bisa terjadi dalam waktu yang cepat, bisa pula terjadi bertahun-tahun kemudian. Saat kita menyadari betapa sakitnya dibenci, dibohongi, dan sebagainya, kita mulai tersadar dan syukur-syukur belajar bahwa bisa jadi ‘sakit hati’ yang kita alami itu berasal dari ‘sakit hati’ yang kita taburkan. Jikalau kita dengan mudah menilai orang dan menjelek-jelekkannya, jangan heran bila suatu waktu, kita malah dinilai orang dan dijelek-jelekkan. Di sinilah kita mulai belajar untuk berhati-hati dalam menilai orang lain. Sayangnya, kita mulai belajar dan ambil langkah perubahan setelah mengalami
suatu kejadian yang luar biasa di luar kehendak kita. Atau dengan kata lain, kita harus mengalami ‘shock therapy’ lebih dulu, baru kemudian
punya pikiran untuk berubah.
Menilai orang tidaklah salah sebab manusia rohani menilai segala sesuatu.
Manusia rohani berani dengan lantang mengecam setiap perbuatan-perbuatan yang salah dan menyerukan pertobatan. Namun, bagaimana caranya dan kapan? Menurut
Alkitab, kita dimampukan melakukan itu, saat KETAATAN kita sudah sempurna. Kita sudah belajar untuk taat, konsisten dan setia berpegang pada kebenaran Firman Allah. Bahkan menurut Alkitab kita bisa menjadi hakim atas para malaikat.
Sayang sekali, banyak anak muda bahkan orang tua merasa kesulitan memperingatkan bahkan menasehati orang yang dikenalnya karena ia mendapati dirinya sendiri tidak becus atau belum taat melakukan kebenaran. Itulah mengapa, banyak orang-orang Kristen ‘chicken’ yang pura-pura tidak tahu, pura-pura tidak lihat, atau pura-pura cuek, saat menyaksikan teman atau keluarganya sedang berjalan menuju ambang kehancuran. Mereka pikir, ”Balok di mataku aja belum beres, ngapain ngurusin selumbar di mata saudaraku? Kan kata Alkitab kayak gitu!” Mental seperti ini, pada akhirnya, membuat kita terus menerus meratapi diri sendiri yang gagal menyingkirkan balok dalam kehidupan kita dan membiarkan orang lain semakin
terpuruk dengan masalahnya. Kalaupun kita ambil sikap dan menasehati orang yang kita anggap salah itu, kita hanya menjadikan diri kita seorang yang munafik. Bahkan tidak jarang kita mendengar atau mengucapkan untuk membenarkan tindakan
orang lain atau kita sendiri dengan berkata, “Yah… gak usah belagak
malaikat. Semua orang pasti punya kelemahan.”
Memang benar kalau semua orang punya sisi gelap atau kelemahan, namun itu sudah menjadi alat iblis yang ampuh untuk membuat pasif anak-anak Tuhan untuk berdiri membela generasinya. Kalau memang kita sependapat dan sering kasih
alasan ‘kelemahan’ ini, bisa jadi kita belum menjadi anak-anak-Nya
yang taat dan sering berkompromi. Dosa menghalangi kita untuk menjadi penasihat-penasihat ilahi. Dosa menghalangi kita untuk menilai orang lain dari kacamata kasih karunia Allah. Dosa menghalangi
kita untuk menjadi saksi Kristus. Dosa menghalangi kita untuk dengan penuh keberanian menegur saudara-saudara kita yang berbuat salah. Bahkan dosa membuat
kita menghakimi orang lain sebagai pelampiasan atas kegagalan yang kita hadapi sendiri. Seringkali, penilaian yang kita buat terhadap orang lain merupakan cermin bagaimana kita menilai diri sendiri. Hati-hati, frustasi pada diri sendiri bisa membuat kita jadi seorang munafik yang suka menghakimi orang lain. Hari ini kita belajar beberapa hal yaitu jangan terlalu cepat menilai orang lain karena penampilan luarnya saja. Kalaupun kita menilai orang lain, kita harus senantiasa ingat dan bertanya pada diri sendiri, “Apakah aku sudah taat melakukan kebenaran?” Kalau jawabannya ‘ya’, berdoalah
dengan sepenuh hati agar Tuhan membantu kita menilai (melihat) orang lain dari kacamata kasih karunia Allah. Kalau dia salah, kita menegurnya. Kalau dia benar, kita mendukungnya.
Kalau jawabannya ‘tidak’, bahkan sudah terbiasa ‘tidak’,
ini waktunya untuk berubah. Karena orang yang paling malang di dunia ini, adalah orang yang tahu apa yang benar dan harus dikerjakan, tapi selalu kalah dengan melakukan apa yang salah.
Kalaupun kita sudah berusaha dan mendapati kita malah berbuat yang salah, ini suatu pertanda, kita harus menyerahkan diri sepenuhnya kepada Dia yang akan memampukan kita. Kekuatan kita sendiri tidak akan pernah bisa membuat kita berubah. Hanya Kristus melalui kasih dan setia-Nya yang akan memampukan kita. Ia sudah menganugerahkan segala yang kita perlukan untuk hidup saleh. Tidak ada yang mustahil bagi Dia. Inga..inga… jangan terlalu cepat menilai
orang lain. * ‘Menilai Orang Lain’ menjadi salah satu pelajaran berharga yang saya alami tahun ini.